Senin, 24 Mei 2010

Rumor Right Issue Gerus Saham BUMI Hingga 30%

Lagi-lagi, rumor panas menghampiri emiten batu bara terbesar nasional yakni PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Kali ini, rencana perseroan untuk mengelar right issue mulai datang lagi, tak ayal harga saham perseroan tergerus cukup dalam dan kena sistem auto rejection.

Pada perdagangan hari ini, saham dengan kode emiten BUMI ini tergerus hingga 30 persen ke level Rp1.630 per lembar sahamnya.

"Kepanikan pasar terjadi siang tadi, jika rumor right issue BUMI santer kembali. Meski manajemen perseroan sudah mengungkapkan kalau niatan tersebut tidak ada, saham BUMI jadi anjlok 30 persen," ujar research analis Bhakti Securities Reza Nugraha, saat berbincang dengan okezone, di Jakarta, Senin (24/5/2010).

Dijelaskannya, sentimen negatif yang mempengaruhi saham BUMI pada perdagangan hari ini, dipenggaruhi mengenai ketidakjelasan tentang jumlah saham yang akan dilepas anak usaha Bakrie ini. "Pelaku pasar menunggu berapa jumlah saham yang dilepas oleh BUMI, tapi belum ada pernyataan resmi dari BUMI, sehingga berpengaruh terhadap sahamnya," katanya.

Seperti diketahui, BUMI berencana menerbitkan saham baru tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue maksimal 10 persen, sehingga BUMI memiliki struktur permodalan yang lebih seimbang dan rasio utang terhadap modal (DER) lebih rendah.

BUMI ingin memaksimalkan kelonggaran aturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) baru, yang memperkenankan emiten melakukan penambahan modal tanpa HMETD maksimal 10 persen dari total modal disetor. Ini berarti BUMI harus menambah modal dasar sebanyak 1,94 miliar saham.

Sekadar mengingatkan, manajemen BUMI telah menegaskan jika pihaknya tidak ada niat untuk menerbitkan right issue atau non pre-emptive right. "Tidak pernah ada niat BUMI untuk melakukan right issue. Juga tidak ada niat untuk melakukan non pre-emptives issue saat ini," jelas SVP Investor Relation-Corporate Secretary BUMI Dileep Sritavastava beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, jika opsi-opsi tersebut tidak pernah diwacanakan dalam perseroan. Menurutnya, hal tersebut adalah spekulasi semata. "Kami ingatkan bahwa hanya sebuah pengumuman resmi dari perusahaan yang merupakan informasi yang kredibel. Karena itu, mari tidak berspekulasi," katanya.

Padahal, pada akhir tahun lalu, Direktur Operasional BUMI Kenneth Farrel menuturkan perseroan merencanakan penawaran umum terbatas (PUT) untuk mendanai kebutuhan investasi perusahaan. Perusahaan membutuhkan investasi sebesar USD2,226 miliar hingga 2013.

Farrrel menjelaskan, Pemerintah Indonesia mengimbau perusahaan terbuka untuk melakukan pre-emptive right sebesar lima persen saham paling tidak satu kali selama tiga tahun. Di mana pemerintah bahkan sedang mempertimbangkan untuk menaikkan menjadi 10 persen

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar