Jumat, 26 November 2010

WHAT A LIFE

Maaf, Ya Saya yang Salah…
BOSS IS NEVER WRONGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG


Malu dan takut kehilangan muka. Barangkali, begitulah yang dirasakan kebanyakan orang ketika harus mengakui kesalahannya. Apalagi, jika menyangkut nama baik divisi atau bahkan menyangkut reputasi perusahaan.
Keengganan minta maaf, lebih banyak dialami atasan ketimbang staf. Karena. takut dianggap tidak cerdas, cemas di­­bilang tak kompeten, atau khawatir jabatan lepas. Padah, tak seburuk itu, kok.

JANGAN MENUNGGU DISUDUTKAN
Ketika membuat suatu kesalahan, ada dua pilihan yang mungkin dilakukan, melemparkan kepada orang lain atau segera mengakui dan memperbaiki kesalahan. Pilihan pertama tentu lebih mudah dilakukan. Dan, mungkin saja, secara tak sadar sempat terlintas di benak Anda.

Namun, untuk melakukan pilihan kedua, rasanya cukup berat. “Selain karena malu dan kehilangan wibawa, banyak bos enggan mengaku salah karena gengsi. Atasan tidak boleh melakukan kesalahan itulah yang membuat mereka cenderung memutuskan menyembunyikan kesalahan, kata Rima Olivia, konsultan EXPERD.

Sebenarnya, sejauh mana seorang atasan perlu mengaku sa­lah pada bawahaa? Rima memandang, hal ini perlu di­lakukan jika kesalahan itu menyangkut pekerjaan anak buah atau merupakan kesalahan signifikan yang harus di­tanggung bersama. Urusan mengaku salah ini pun, menurut Rima, tidak berkaitan dengan tingkat besar-kecilnya, melainkan dengan dampak kesalahan itu terhadap pekerjaan anak buah.

Mengakui kesalahan, segera setelah menyadarinya, akan jauh lebih baik daripada nantinya disudutkan. Sebab, jika terpaksa (atau dipaksa) mengaku setelah ‘dihujani’ bukti-bukti bahwa Andalah yang melakukan kesalahan, rasa malu yang Anda tanggung akan makin besar. Lagi pula, jika kabar tentang kesalahan itu sudah ‘beredar’ cukup lama di antara anak buah, bisa jadi, kesalahan itu jadi tampak dibesar-besarkan. Sehingga, Anda malah akan lebih sulit memberikan penjelasan yang sebenarnya.

BICARA LANGSUNG LEBIH BAIK
Bisa jadi, jika mengakui kesalahan itu langsung di depan orang banyak, wajah Anda akan memerah dan panas. Tapi, hal itu akan jauh lebih dihargai daripada jika Anda melakukannya secara tertulis

Dengan bicara langsung, Anda mendapat kesempatan melihat reaksi anak buah, sejauh mana kesalahan Anda mengganggu mereka. Anda dapat mengurangi masalah kesalahpahaman terhadap kondisi yang di­timbulkan kesalahan tersebut. Cara untuk menyampaikan pengakuan kesalahan itu cukup be­ragam. Jika perusahaan Anda tak mementingkan formalitas, barangkali sambil menikmati makan siang, Anda bisa mengakui kesalahan.

Tapi, jika kesalahan yang Anda lakukan cukup serius dan per­usahaan Anda tergolong formal, Rima menyarankan agar Anda me­ngadakan meeting khusus. Yang perlu dilibatkan dalam meeting tersebut adalah rekan kerja atau anak buah yang menjadi ‘korban’ kesalahan Anda. Buka­­lah meeting dengan cara langsung mengakui kesalahan.

Sampaikan pengakuan Anda dengan tenang. Ungkapkan secara jelas, mengapa Anda melakukan kesalahan tersebut. Usahakan agar nada suara dan kata-kata Anda tidak mengandung nada defensif. Karena, sikap defensif itu akan menimbulkan kesan bahwa Anda hanya melindungi gengsi, tanpa memikirkan kepentingan anak buah. Padahal, anak buah Anda kan juga terkena dampak dari kesalahan itu.

PELATIHAN TAK LANGSUNG
“Beberapa waktu lalu, saya mengambil keputusan ini karena se­pertinya proyek ini tidak membutuhkan banyak dana. Namun, ternyata, perkiraan saya salah. Untuk memperbaiki kesalahan ini, saya memerlukan bantuan masukan dari rekan-rekan semua.

Begitulah kira-kira ucapan yang akan diterima oleh anak buah Anda, sehingga pengakuan ‘dosa’ Anda tak akan membuat mereka merendahkan, bahkan akhirnya mengundang respek. Sikap yang bijaksana itu, menurut Rima, akan mendorong anak buah untuk melakukan hal yang sama, yaitu mengakui kesalahan pada atasan atau rekan kerja lainnya.

“Kejadian ini bisa menjadi coach­­ing atau pelatihan secara tak langsung. Jadi, sebagai atasan, Anda dianggap bisa menjadi panutan yang baik, karena telah menunjukkan tanggung jawab.

Jadi, rasanya, tak perlu lagi mengusung gengsi dan tak mau me­ngakui kesalahan. Peraturan kuno yang menyatakan bahwa bos tak bisa salah (jika bos salah, lihat kembali pada peraturan utama), sudah tak berlaku lagi. Menjadi bos kan juga suatu proses pembelajaran.Sehingga, jika Anda melakukan kesalahan, itu sah-sah saja. “Yang jelas, karena bertindak sebagai atasan, yang juga mempunyai peran sebagai pemimpin, Anda perlu menyadari bahwa kekuasaan atau otoritas Anda tidak akan hilang, hanya karena Anda mengakui kesalahan, kata Rima, menegaskan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar