Jumat, 26 November 2010

KARIERRRR

Karier Meroket berkat Bahasa Asing Kedua





Di zaman globalisasi seperti sekarang, kemampuan berbahasa asing menjadi salah satu ‘senjata’ andalan untuk ‘menaklukkan’ dunia. Nah, bagaimana kiat menyiapkan diri dari persaingan yang makin kompetitif di dunia kerja dan bahasa asing mana sajakah yang patut dikuasai untuk memuluskan jenjang karier?

DISESUAIKAN PILIHAN KARIER
Sylvina Savitri, konsultan dari Experd, mengatakan, penguasaan bahasa asing kini memiliki nilai yang sangat penting untuk mendongkrak kemajuan karier. Apalagi posisi manajerial kini banyak didominasi oleh ekspatriat. Otomatis mereka yang kemampuan bahasa asingnya bel­epotan, panas dingin dan cenderung bengong jika harus bertemu muka dengan bos atau mitra bisnis dari negara lain.

Sylvina mengakui, di era persaingan kerja yang kompetitif ini, seseorang yang menguasai bahasa asing ‘populer’ dan bernilai jual tinggi, otomatis memiliki peluang lebih besar dalam mendapat panggilan kerja dibandingkan sesama rekannya yang memilliki latar belakang pendidikan serupa.

Karyawan yang mahir berbahasa asing kedua, terutama bahasa-bahasa Asia, juga berpeluang besar untuk dikirim perusahaan mengikuti pelatihan di luar negeri. Siapa pun tahu, perkembangan ekonomi dan pendidikan di Asia seperti di Jepang, Cina, India, serta banyaknya perusahaan Jepang berekspansi ke Indonesia, ki­ni menyebabkan banyak perusahaan multinasional lebih suka me­ngirim karyawannya training di Jepang, Korea, ataupun Cina.

Kemahiran ini juga membuka peluang besar bagi karyawan per­usahaan multinasional untuk ditempatkan di cabang-cabang di negara asing Asia lainnya. Karyawan yang mahir berbahasa asing biasanya juga disayang bos, karena tidak malu-maluin jika diajak meeting dengan mitra bisnis dari luar negeri.

Walau iming-iming ini terdengar menggiurkan, Anda ternyata tak bisa sembarangan memilih bahasa asing kedua yang ingin dipelajari. Lincoln Taylor, manajer dari Berlitz Language Center, mengatakan, pilihan itu sebaiknya disesuaikan dengan jenis pe­kerjaan. “Jangan mentang-mentang merasa bahasa x terdengar eksotis, lantas tanpa berpikir panjang, langsung mendaftarkan diri ikut kursus. Kalau Anda memang hobi traveling, ingin jadi penerjemah atau berkarier di kedutaan, memang tidak jadi soal. Tapi, kalau tidak kan sayang waktu dan uang yang terbuang. Lebih baik ji­ka dipergunakan untuk belajar bahasa yang menunjang profesi Anda.“

TIGA BAHASA MASA DEPAN
Ada tiga bahasa kuat yang tampaknya akan makin populer di hari esok, yakni Mandarin, Jepang, dan Jerman. Chew Say Loo, Vice President CNI, sebuah perusahaan MLM, yang kebetulan juga seorang ekspatriat dari Malaysia, dengan tegas mengatakan, bahasa Mandarin adalah bahasa kedua yang harus dikuasai setelah bahasa Inggris. Bahasa ini diyakininya membuka kesempatan berkarier di luar negeri, khususnya di Asia. Apalagi negara-negara seperti Cina, Hong Kong, Taiwan, dan Singapura kini sedang giat-giatnya melirik dan mempekerjakan tenaga kerja asing, termasuk WNI.

Pernyataan serupa juga muncul dari Catherine Keng, presenter berita Metro Xinwen. “Seseorang minimal harus menguasai dua bahasa asing, supaya bisa bertahan dan laku di pasar kerja Asia, yakni Inggris dan Mandarin. Buktinya, saya sering dimintai tolong mencarikan karyawan yang fasih berbahasa Mandarin oleh berbagai perusahaan.”

Bahasa Jepang juga tak kalah penting. Walau Jepang kini tak lagi menguasai perekonomian Asia, masih banyak perusahaan Jepang tetap menanamkan investasinya di Indonesia. Bagi Jepang, Indonesia tetap merupakan pasar yang amat besar bagi produk dan teknologi yang mereka kembangkan. “Paling tidak kesempatan diterima di perusahaan Jepang yang menjanjikan imbalan dan jenjang karier yang jelas.akan terbuka lebar, jika Anda menguasai basic bahasa Jepang. Bukan tidak mungkin Anda bisa terpilih mengikuti pelatihan di Negeri Sakura. Bahasa Jepang juga tetap favorit dipelajari karena melesatnya perkembangan fashion dan dunia animasi Jepang,” kata Lincoln, berpendapat.

Maulina Rahmawati, direktur bagian bahasa di Berlitz Language Center, berpendapat, masih ada satu bahasa lain yang menyimpan potensi di masa depan, yakni bahasa Jerman. Jerman memang raja teknologi di kawasan Eropa dan banyak membuka pe­luang kerja bagi WNI.

Kemampuan berbahasa asing yang populer ternyata tak hanya dapat memuluskan karier, tetapi juga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan meningkatkan kualitas hidup. Chew, yang fasih berkomunikasi dalam 3 bahasa: Inggris, Mandarin, dan Melayu (plus dialek bahasa Cina-Hokkian), merasakan sendiri manfaatnya. “Dengan modal tiga bahasa tersebut, saya tak perlu merasa waswas ditempatkan di pelosok dunia mana pun. Saya bisa mingle dan nyambung dengan penduduk lokal Dari sisi sosialisasi, karier, dan berkomunikasi, saya merasa bisa bersaing dengan siapa pun,” katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar