Karyawan Kontrak, Apa Untungnya?
Jika diberi pilihan, tentunya Anda lebih memilih mengambil kesempatan menjadi karyawan tetap ketimbang berstatus kontrak. Tak bisa dipungkiri, sebagai karyawan permanen di suatu perusahaan, umumnya memang memiliki sederet keuntungan, seperti jenjang karier jelas, penghasilan tetap, tunjangan kesejahteraan (termasuk asuransi kesehatan), bahkan bonus tahunan.
Namun, ternyata, tak selamanya karyawan kontrak dirugikan! Jika cerdas menangkap peluang emas, dan tak bosan mengasah potensi diri, Anda justru bisa berada pada posisi yang ’diburu’ perusahaan, dengan penawaran penghasilan lebih tinggi dibandingkan pegawai tetap.
Karena kepiawaiannya melakukan alih bahasa Indonesia ke bahasa Jepang secara lisan, dan sebaliknya, Fira (29) dipekerjakan dengan status kontrak oleh sebuah perusahaan besar Jepang yang baru beroperasi di Jakarta. Sebagai interpreter (penerjemah lisan) di perusahaan tersebut, ia diminta menjadi jembatan komunikasi antara tenaga ahli Jepang dan karyawan lokal. “Meski hanya dikontrak kerja selama setahun, gaji yang ditawarkan menggiurkan!“ ucapnya.
Keahlian seseorang dalam bidang tertentu, sebagai contoh Fira, menurut Sylvina Savitri, konsultan karier dari Experd, memang merupakan salah satu alasan perusahaan mempekerjaan pegawai kontrak. Biasanya, perusahaan sedang membutuhkan tenaga ahli untuk menangani suatu pekerjaan khusus untuk jangka waktu tertentu. Terutama jika tenaga ahli tersebut tidak dimiliki perusahaan.
Selain itu, tingkat beban kerja tinggi pada waktu-waktu tertentu (bisa berupa proyek yang ditangani karyawan perusahaan atau pekerjaan reguler), juga merupakan alasan lain perusahaan membuka lowongan kerja bagi pegawai kontrak. “Ketimbang menerima karyawan baru, lebih baik menyewa karyawan berstatus kontrak, yang masa kontraknya dapat ditentukan hingga beban kerja mulai berkurang. Tentunya lebih menguntungkan perusahaan, ’kan?“
Sylvina menguraikan, kondisi kebanyakan perusahaan yang masih labil karena krisis ekonomi juga menyebabkan kebutuhan atas pegawai kontrak meningkat. Untuk efisiensi, perusahaan menggunakan jasa tenaga lepas sehingga mendapatkan kemudahan dari segi administrasi hingga urusan pekerjaan lain. Atau, ada juga perusahaan yang terus-menerus memperpanjang kontrak kerja pegawai masa percobaan. Padahal, semestinya diangkat menjadi karyawan tetap usai kontrak berakhir. Tapi, dengan dalih ‘mengerem’ pengeluaran perusahaan, mereka terus-menerus berstatus kontrak.
Untuk itu, Anda perlu mencermati kontrak yang ditanda tangani.
Jumat, 26 November 2010
HEY WANITA
Penting untuk Karier, Kok, Disepelekan...
Jangan cepat bersikap menyepelekan, yang bukan tidak mungkin bisa membuat karier Anda ’jalan di tempat’. Jika ingin laju karier melesat cepat, kenali nilai atau sikap yang sebaiknya tidak disepelekan di dunia kerja!
1 Segan mengasah jiwa kepemimpinan
Budaya paternalis, membuat banyak wanita segan menargetkan diri sebagai pemimpin. Padahal, tampuk pimpinan bukan semata didominasi pria.
Saran
• Targetkan karakter kepemimpinan yang ingin dilatih, sehingga dapat membuat action plan realistis.
• Jangan sia-siakan kesempatan mengikuti workshop latihan dasar kepemimpinan.
• Dalami buku tentang kepemimpinan dasar sebagai bahan referensi.
2 Bekerja ‘separuh hati’
Berbeda dari pria, yang bekerja dengan alasan aktualisasi diri, orientasi berprestasi, dan pencapaian target, sebagian wanita menganggap pekerjaan sebagai ‘selingan’ mengisi waktu. Akibatnya, banyak wanita enggan ‘ngotot’, dan cepat menyerah bila menemui masalah di tempat kerja.
Saran:
Temukan motivasi yang tumbuh dari dalam diri (intrinsik), di luar motivasi ekstrinsik (mengisi waktu luang atau mendapatkan tambahan penghasilan). Mengenali dan mengingat kembali motivasi intrinsik akan mendorong Anda menampilkan totalitas utuh dalam bekerja.
3 Tidak menguasai bahasa asing
Sebenarnya, ‘program’ otak wanita lebih mudah menyerap pelajaran bahasa dibandingkan pria. Sayangnya, masih banyak juga wanita yang kurang menyadari kekuatan dan peluang yang dapat diraih bila menguasai bahasa asing.
Saran
• Bangun motivasi diri dengan memahami dengan jelas alasan harus menguasai bahasa asing.
• Buatlah target belajar efektif dan simpel.
• Mulailah membaca majalah asing. Jika kesulitan memahami artikel itu, jangan buru-buru berhenti.
• Ikuti kursus bahasa asing, terutama yang menyediakan pengajar native speaker.
4 Enggan membuat evaluasi pekerjaan
Malas membuat rekapitulasi pekerjaan, karena sering dianggap sebagai pekerjaan ekstra. Padahal, atasan akan sangat menghargai jika Anda proaktif dan konsisten melakukan evaluasi pekerjaan secara rutin.
Saran
• Sisihkan waktu secara berkala mendata pekerjaan yang sudah dilakukan.
• Gunakan bantuan komputer dan temukan sistem yang tepat, yang memudahkan membuat rekapitulasi pekerjaan.
• Jadikan info rekapitulasi sebagai sesuatu yang bernilai tambah, bukan pekerjaan administrasi belaka.
5 Malas bersosialisasi
Umumnya, alasan karyawan malas bersosialisasi dengan divisi lain di kantor adalah merasa tidak punya waktu.
Tapi, tidak bisa dibantah, bersosialisasi dengan divisi lain itu penting. Selain sebagai jaringan ‘inteligen’ informasi, rekan di divisi lain akan lebih ringan tangan membantu saat Anda butuh pertolongan.
Saran
• Nikmati bersosialisasi dengan relaks dan fun.
• Mulailah dari cara sederhana, misalnya menyebar e-mail bagus untuk rekan-rekan divisi lain.
• Cobalah berpartisipasi bila ada kesempatan yang memungkinkan bisa bertemu rekan divisi lain.
6 Tidak tertarik teknologi
Wanita memang cenderung tidak tertarik pada dunia teknologi. Padahal, jika Anda juga mendalami beragam program atau fitur yang ada pada perangkat teknologi, tentunya akan mempermudah pekerjaan.
Saran
• Anda perlu segera mengganti mindset bahwa teknologi adalah ‘mainan’ pria.
• Kenali masalah yang terjadi dan cara pemecahannya sebelum memanggil staf IT.
• ‘PR’ utama adalah mengenali dasar-dasar program perangkat teknologi yang mendukung pekerjaan.
7 Tidak membaca surat kabar
Kebanyakan, wanita merasa lebih pas dan cukup puas dengan tabloid gosip, sementara surat kabar atau majalah bisnis dianggap sebagai bacaan pria. Kurangnya Anda meng-update isu-isu terbaru seputar bisnis, menjadikan Anda sulit memasuki ‘wilayah’ posisi kerja lebih tinggi.
Saran
• Mulailah membaca surat kabar dan majalah bisnis atau ikutilah diskusi di komunitas profesional.
• Ajak rekan kerja mendiskusikan topik hangat di surat kabar.
8 idak menguasai public speaking
Public speaking merupakan media paling baik untuk ‘menjual’ diri di dunia kerja. Kepandaian berbicara di depan umum bermanfaat membuat nama dan figur Anda lebih cepat dikenal orang.
Saran
• Perbanyak bacaan dari buku atau majalah tentang topik ini.
• Gunakanlah momen sehari-hari untuk berlatih.
• Jika merasa tak mampu belajar sendiri, ikuti kursus singkat adalah solusi terbaik.
9 Malu menonjolkan kesuksesan
Karena tak ingin dianggap sombong, saat berhasil melakukan tugas penting dan mendapatkan pujian, Anda justru merasa lebih senang bersikap rendah hati, menyembunyikan kontribusi diri dalam kesuksesan tersebut.
Saran
• Mulailah menghargai diri sendiri dengan sekecil apa pun keberhasilan Anda.
• Jangan menolak pujian. Minimal, katakan, “Terima kasih....”
• Biasakan menerima pujian dengan tidak menyombongkan diri.
10 Mengabaikan tantangan
Sering kali, ketika dilimpahkan tugas besar, rasa takut gagal langsung menghantui pikiran. Akibatnya, bukannya mengambil tantangan tersebut, Anda justru menolak.
Saran
• Jangan menolak jika ditawari menangani proyek apapun. Ini merupakan kesempatan untuk unjuk gigi.
• Persiapkan proyek sebaik mungkin. Luangkan waktu untuk menyiapkan berbagai keperluan untuk mengatasi permasalahan.
Jangan cepat bersikap menyepelekan, yang bukan tidak mungkin bisa membuat karier Anda ’jalan di tempat’. Jika ingin laju karier melesat cepat, kenali nilai atau sikap yang sebaiknya tidak disepelekan di dunia kerja!
1 Segan mengasah jiwa kepemimpinan
Budaya paternalis, membuat banyak wanita segan menargetkan diri sebagai pemimpin. Padahal, tampuk pimpinan bukan semata didominasi pria.
Saran
• Targetkan karakter kepemimpinan yang ingin dilatih, sehingga dapat membuat action plan realistis.
• Jangan sia-siakan kesempatan mengikuti workshop latihan dasar kepemimpinan.
• Dalami buku tentang kepemimpinan dasar sebagai bahan referensi.
2 Bekerja ‘separuh hati’
Berbeda dari pria, yang bekerja dengan alasan aktualisasi diri, orientasi berprestasi, dan pencapaian target, sebagian wanita menganggap pekerjaan sebagai ‘selingan’ mengisi waktu. Akibatnya, banyak wanita enggan ‘ngotot’, dan cepat menyerah bila menemui masalah di tempat kerja.
Saran:
Temukan motivasi yang tumbuh dari dalam diri (intrinsik), di luar motivasi ekstrinsik (mengisi waktu luang atau mendapatkan tambahan penghasilan). Mengenali dan mengingat kembali motivasi intrinsik akan mendorong Anda menampilkan totalitas utuh dalam bekerja.
3 Tidak menguasai bahasa asing
Sebenarnya, ‘program’ otak wanita lebih mudah menyerap pelajaran bahasa dibandingkan pria. Sayangnya, masih banyak juga wanita yang kurang menyadari kekuatan dan peluang yang dapat diraih bila menguasai bahasa asing.
Saran
• Bangun motivasi diri dengan memahami dengan jelas alasan harus menguasai bahasa asing.
• Buatlah target belajar efektif dan simpel.
• Mulailah membaca majalah asing. Jika kesulitan memahami artikel itu, jangan buru-buru berhenti.
• Ikuti kursus bahasa asing, terutama yang menyediakan pengajar native speaker.
4 Enggan membuat evaluasi pekerjaan
Malas membuat rekapitulasi pekerjaan, karena sering dianggap sebagai pekerjaan ekstra. Padahal, atasan akan sangat menghargai jika Anda proaktif dan konsisten melakukan evaluasi pekerjaan secara rutin.
Saran
• Sisihkan waktu secara berkala mendata pekerjaan yang sudah dilakukan.
• Gunakan bantuan komputer dan temukan sistem yang tepat, yang memudahkan membuat rekapitulasi pekerjaan.
• Jadikan info rekapitulasi sebagai sesuatu yang bernilai tambah, bukan pekerjaan administrasi belaka.
5 Malas bersosialisasi
Umumnya, alasan karyawan malas bersosialisasi dengan divisi lain di kantor adalah merasa tidak punya waktu.
Tapi, tidak bisa dibantah, bersosialisasi dengan divisi lain itu penting. Selain sebagai jaringan ‘inteligen’ informasi, rekan di divisi lain akan lebih ringan tangan membantu saat Anda butuh pertolongan.
Saran
• Nikmati bersosialisasi dengan relaks dan fun.
• Mulailah dari cara sederhana, misalnya menyebar e-mail bagus untuk rekan-rekan divisi lain.
• Cobalah berpartisipasi bila ada kesempatan yang memungkinkan bisa bertemu rekan divisi lain.
6 Tidak tertarik teknologi
Wanita memang cenderung tidak tertarik pada dunia teknologi. Padahal, jika Anda juga mendalami beragam program atau fitur yang ada pada perangkat teknologi, tentunya akan mempermudah pekerjaan.
Saran
• Anda perlu segera mengganti mindset bahwa teknologi adalah ‘mainan’ pria.
• Kenali masalah yang terjadi dan cara pemecahannya sebelum memanggil staf IT.
• ‘PR’ utama adalah mengenali dasar-dasar program perangkat teknologi yang mendukung pekerjaan.
7 Tidak membaca surat kabar
Kebanyakan, wanita merasa lebih pas dan cukup puas dengan tabloid gosip, sementara surat kabar atau majalah bisnis dianggap sebagai bacaan pria. Kurangnya Anda meng-update isu-isu terbaru seputar bisnis, menjadikan Anda sulit memasuki ‘wilayah’ posisi kerja lebih tinggi.
Saran
• Mulailah membaca surat kabar dan majalah bisnis atau ikutilah diskusi di komunitas profesional.
• Ajak rekan kerja mendiskusikan topik hangat di surat kabar.
8 idak menguasai public speaking
Public speaking merupakan media paling baik untuk ‘menjual’ diri di dunia kerja. Kepandaian berbicara di depan umum bermanfaat membuat nama dan figur Anda lebih cepat dikenal orang.
Saran
• Perbanyak bacaan dari buku atau majalah tentang topik ini.
• Gunakanlah momen sehari-hari untuk berlatih.
• Jika merasa tak mampu belajar sendiri, ikuti kursus singkat adalah solusi terbaik.
9 Malu menonjolkan kesuksesan
Karena tak ingin dianggap sombong, saat berhasil melakukan tugas penting dan mendapatkan pujian, Anda justru merasa lebih senang bersikap rendah hati, menyembunyikan kontribusi diri dalam kesuksesan tersebut.
Saran
• Mulailah menghargai diri sendiri dengan sekecil apa pun keberhasilan Anda.
• Jangan menolak pujian. Minimal, katakan, “Terima kasih....”
• Biasakan menerima pujian dengan tidak menyombongkan diri.
10 Mengabaikan tantangan
Sering kali, ketika dilimpahkan tugas besar, rasa takut gagal langsung menghantui pikiran. Akibatnya, bukannya mengambil tantangan tersebut, Anda justru menolak.
Saran
• Jangan menolak jika ditawari menangani proyek apapun. Ini merupakan kesempatan untuk unjuk gigi.
• Persiapkan proyek sebaik mungkin. Luangkan waktu untuk menyiapkan berbagai keperluan untuk mengatasi permasalahan.
WHAT A LIFE
Maaf, Ya Saya yang Salah…
BOSS IS NEVER WRONGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG
Malu dan takut kehilangan muka. Barangkali, begitulah yang dirasakan kebanyakan orang ketika harus mengakui kesalahannya. Apalagi, jika menyangkut nama baik divisi atau bahkan menyangkut reputasi perusahaan.
Keengganan minta maaf, lebih banyak dialami atasan ketimbang staf. Karena. takut dianggap tidak cerdas, cemas dibilang tak kompeten, atau khawatir jabatan lepas. Padah, tak seburuk itu, kok.
JANGAN MENUNGGU DISUDUTKAN
Ketika membuat suatu kesalahan, ada dua pilihan yang mungkin dilakukan, melemparkan kepada orang lain atau segera mengakui dan memperbaiki kesalahan. Pilihan pertama tentu lebih mudah dilakukan. Dan, mungkin saja, secara tak sadar sempat terlintas di benak Anda.
Namun, untuk melakukan pilihan kedua, rasanya cukup berat. “Selain karena malu dan kehilangan wibawa, banyak bos enggan mengaku salah karena gengsi. Atasan tidak boleh melakukan kesalahan itulah yang membuat mereka cenderung memutuskan menyembunyikan kesalahan, kata Rima Olivia, konsultan EXPERD.
Sebenarnya, sejauh mana seorang atasan perlu mengaku salah pada bawahaa? Rima memandang, hal ini perlu dilakukan jika kesalahan itu menyangkut pekerjaan anak buah atau merupakan kesalahan signifikan yang harus ditanggung bersama. Urusan mengaku salah ini pun, menurut Rima, tidak berkaitan dengan tingkat besar-kecilnya, melainkan dengan dampak kesalahan itu terhadap pekerjaan anak buah.
Mengakui kesalahan, segera setelah menyadarinya, akan jauh lebih baik daripada nantinya disudutkan. Sebab, jika terpaksa (atau dipaksa) mengaku setelah ‘dihujani’ bukti-bukti bahwa Andalah yang melakukan kesalahan, rasa malu yang Anda tanggung akan makin besar. Lagi pula, jika kabar tentang kesalahan itu sudah ‘beredar’ cukup lama di antara anak buah, bisa jadi, kesalahan itu jadi tampak dibesar-besarkan. Sehingga, Anda malah akan lebih sulit memberikan penjelasan yang sebenarnya.
BICARA LANGSUNG LEBIH BAIK
Bisa jadi, jika mengakui kesalahan itu langsung di depan orang banyak, wajah Anda akan memerah dan panas. Tapi, hal itu akan jauh lebih dihargai daripada jika Anda melakukannya secara tertulis
Dengan bicara langsung, Anda mendapat kesempatan melihat reaksi anak buah, sejauh mana kesalahan Anda mengganggu mereka. Anda dapat mengurangi masalah kesalahpahaman terhadap kondisi yang ditimbulkan kesalahan tersebut. Cara untuk menyampaikan pengakuan kesalahan itu cukup beragam. Jika perusahaan Anda tak mementingkan formalitas, barangkali sambil menikmati makan siang, Anda bisa mengakui kesalahan.
Tapi, jika kesalahan yang Anda lakukan cukup serius dan perusahaan Anda tergolong formal, Rima menyarankan agar Anda mengadakan meeting khusus. Yang perlu dilibatkan dalam meeting tersebut adalah rekan kerja atau anak buah yang menjadi ‘korban’ kesalahan Anda. Bukalah meeting dengan cara langsung mengakui kesalahan.
Sampaikan pengakuan Anda dengan tenang. Ungkapkan secara jelas, mengapa Anda melakukan kesalahan tersebut. Usahakan agar nada suara dan kata-kata Anda tidak mengandung nada defensif. Karena, sikap defensif itu akan menimbulkan kesan bahwa Anda hanya melindungi gengsi, tanpa memikirkan kepentingan anak buah. Padahal, anak buah Anda kan juga terkena dampak dari kesalahan itu.
PELATIHAN TAK LANGSUNG
“Beberapa waktu lalu, saya mengambil keputusan ini karena sepertinya proyek ini tidak membutuhkan banyak dana. Namun, ternyata, perkiraan saya salah. Untuk memperbaiki kesalahan ini, saya memerlukan bantuan masukan dari rekan-rekan semua.
Begitulah kira-kira ucapan yang akan diterima oleh anak buah Anda, sehingga pengakuan ‘dosa’ Anda tak akan membuat mereka merendahkan, bahkan akhirnya mengundang respek. Sikap yang bijaksana itu, menurut Rima, akan mendorong anak buah untuk melakukan hal yang sama, yaitu mengakui kesalahan pada atasan atau rekan kerja lainnya.
“Kejadian ini bisa menjadi coaching atau pelatihan secara tak langsung. Jadi, sebagai atasan, Anda dianggap bisa menjadi panutan yang baik, karena telah menunjukkan tanggung jawab.
Jadi, rasanya, tak perlu lagi mengusung gengsi dan tak mau mengakui kesalahan. Peraturan kuno yang menyatakan bahwa bos tak bisa salah (jika bos salah, lihat kembali pada peraturan utama), sudah tak berlaku lagi. Menjadi bos kan juga suatu proses pembelajaran.Sehingga, jika Anda melakukan kesalahan, itu sah-sah saja. “Yang jelas, karena bertindak sebagai atasan, yang juga mempunyai peran sebagai pemimpin, Anda perlu menyadari bahwa kekuasaan atau otoritas Anda tidak akan hilang, hanya karena Anda mengakui kesalahan, kata Rima, menegaskan.
BOSS IS NEVER WRONGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG
Malu dan takut kehilangan muka. Barangkali, begitulah yang dirasakan kebanyakan orang ketika harus mengakui kesalahannya. Apalagi, jika menyangkut nama baik divisi atau bahkan menyangkut reputasi perusahaan.
Keengganan minta maaf, lebih banyak dialami atasan ketimbang staf. Karena. takut dianggap tidak cerdas, cemas dibilang tak kompeten, atau khawatir jabatan lepas. Padah, tak seburuk itu, kok.
JANGAN MENUNGGU DISUDUTKAN
Ketika membuat suatu kesalahan, ada dua pilihan yang mungkin dilakukan, melemparkan kepada orang lain atau segera mengakui dan memperbaiki kesalahan. Pilihan pertama tentu lebih mudah dilakukan. Dan, mungkin saja, secara tak sadar sempat terlintas di benak Anda.
Namun, untuk melakukan pilihan kedua, rasanya cukup berat. “Selain karena malu dan kehilangan wibawa, banyak bos enggan mengaku salah karena gengsi. Atasan tidak boleh melakukan kesalahan itulah yang membuat mereka cenderung memutuskan menyembunyikan kesalahan, kata Rima Olivia, konsultan EXPERD.
Sebenarnya, sejauh mana seorang atasan perlu mengaku salah pada bawahaa? Rima memandang, hal ini perlu dilakukan jika kesalahan itu menyangkut pekerjaan anak buah atau merupakan kesalahan signifikan yang harus ditanggung bersama. Urusan mengaku salah ini pun, menurut Rima, tidak berkaitan dengan tingkat besar-kecilnya, melainkan dengan dampak kesalahan itu terhadap pekerjaan anak buah.
Mengakui kesalahan, segera setelah menyadarinya, akan jauh lebih baik daripada nantinya disudutkan. Sebab, jika terpaksa (atau dipaksa) mengaku setelah ‘dihujani’ bukti-bukti bahwa Andalah yang melakukan kesalahan, rasa malu yang Anda tanggung akan makin besar. Lagi pula, jika kabar tentang kesalahan itu sudah ‘beredar’ cukup lama di antara anak buah, bisa jadi, kesalahan itu jadi tampak dibesar-besarkan. Sehingga, Anda malah akan lebih sulit memberikan penjelasan yang sebenarnya.
BICARA LANGSUNG LEBIH BAIK
Bisa jadi, jika mengakui kesalahan itu langsung di depan orang banyak, wajah Anda akan memerah dan panas. Tapi, hal itu akan jauh lebih dihargai daripada jika Anda melakukannya secara tertulis
Dengan bicara langsung, Anda mendapat kesempatan melihat reaksi anak buah, sejauh mana kesalahan Anda mengganggu mereka. Anda dapat mengurangi masalah kesalahpahaman terhadap kondisi yang ditimbulkan kesalahan tersebut. Cara untuk menyampaikan pengakuan kesalahan itu cukup beragam. Jika perusahaan Anda tak mementingkan formalitas, barangkali sambil menikmati makan siang, Anda bisa mengakui kesalahan.
Tapi, jika kesalahan yang Anda lakukan cukup serius dan perusahaan Anda tergolong formal, Rima menyarankan agar Anda mengadakan meeting khusus. Yang perlu dilibatkan dalam meeting tersebut adalah rekan kerja atau anak buah yang menjadi ‘korban’ kesalahan Anda. Bukalah meeting dengan cara langsung mengakui kesalahan.
Sampaikan pengakuan Anda dengan tenang. Ungkapkan secara jelas, mengapa Anda melakukan kesalahan tersebut. Usahakan agar nada suara dan kata-kata Anda tidak mengandung nada defensif. Karena, sikap defensif itu akan menimbulkan kesan bahwa Anda hanya melindungi gengsi, tanpa memikirkan kepentingan anak buah. Padahal, anak buah Anda kan juga terkena dampak dari kesalahan itu.
PELATIHAN TAK LANGSUNG
“Beberapa waktu lalu, saya mengambil keputusan ini karena sepertinya proyek ini tidak membutuhkan banyak dana. Namun, ternyata, perkiraan saya salah. Untuk memperbaiki kesalahan ini, saya memerlukan bantuan masukan dari rekan-rekan semua.
Begitulah kira-kira ucapan yang akan diterima oleh anak buah Anda, sehingga pengakuan ‘dosa’ Anda tak akan membuat mereka merendahkan, bahkan akhirnya mengundang respek. Sikap yang bijaksana itu, menurut Rima, akan mendorong anak buah untuk melakukan hal yang sama, yaitu mengakui kesalahan pada atasan atau rekan kerja lainnya.
“Kejadian ini bisa menjadi coaching atau pelatihan secara tak langsung. Jadi, sebagai atasan, Anda dianggap bisa menjadi panutan yang baik, karena telah menunjukkan tanggung jawab.
Jadi, rasanya, tak perlu lagi mengusung gengsi dan tak mau mengakui kesalahan. Peraturan kuno yang menyatakan bahwa bos tak bisa salah (jika bos salah, lihat kembali pada peraturan utama), sudah tak berlaku lagi. Menjadi bos kan juga suatu proses pembelajaran.Sehingga, jika Anda melakukan kesalahan, itu sah-sah saja. “Yang jelas, karena bertindak sebagai atasan, yang juga mempunyai peran sebagai pemimpin, Anda perlu menyadari bahwa kekuasaan atau otoritas Anda tidak akan hilang, hanya karena Anda mengakui kesalahan, kata Rima, menegaskan.
TUGAS SOFTSKILL ANALISA KASUS NORM
TUGAS SOFTKILL
ETIKA PROFESI AKUNTANSI
NAMA KELOMPOK :
1. ELSHA INDAH CECILIA ( 20207399 )
2. WAHYU PUTRA ( 21207149 )
3. ZUWINDA HANDARI RAHMIYATI ( 21207290 )
4. NANDA ISMANA PUTRA ( 21207345 )
5. NUGRATAMA IMANSYAH ( 20207806 )
6. ANGGREINI WULANDARI ( 20207129 )
7. FITRI MEIDA SARI ( 20207474 )
UNIVERSITAS GUNADARMA
Mana Akuntan?
"Sam, aku benar-benar dalam kesulitan. Aku selalu ingin menjadi seorang akuntan. Tapi di sini saya hanya akan berlaku untuk perusahaan akuntansi pekerjaan setelah lulus dari universitas, dan aku tidak yakin aku ingin menjadi seorang akuntan setelah semua. "
"Kenapa, Norm? Dalam semua program akuntansi kami mengambil bersama, Anda bekerja keras super karena Anda benar-benar tertarik. Apa masalah anda sekarang? "
"Yah, aku sudah membaca surat kabar bisnis, laporan, dan jurnal akuntansi akhir-akhir ini, dan hal-hal hanya tidak menambahkan. Misalnya, Anda tahu bagaimana kita selalu diberitahu bahwa akuntan memiliki keahlian dalam measuremet dan pengungkapan, bahwa mereka seharusnya menyiapkan laporan dengan integritas, dan bahwa mereka harus membasmi penipuan jika mereka mencurigai hal itu? Yah, tidak terlihat seperti mereka telah melakukan pekerjaan yang baik. Setidaknya, mereka belum melakukan apa yang saya harapkan. "
"Ingat, Norm, kita masih mahasiswa dengan banyak belajar. Mungkin anda melewatkan sesuatu. Apa yang telah kamu telah membaca tentang? "
"Oke, Sam, berikut adalah beberapa cerita bagi Anda untuk berpikir tentang:
1. Dalam artikel ini, "Akuntan dan S & L Krisis," yang Akuntansi Manajemen pada bulan Februari 1993, saya menemukan dalil bahwa kegagalan $ 200 juta karena regulator dan penurunan di pasar real estat, bukan untuk penipuan akuntansi . . . tapi saya tidak membelinya sepenuhnya. Menurut artikel ini, suku bunga naik dan suku bunga kredit tetap mengakibatkan arus kas negatif pada saat yang sama sebagai penurunan nilai pasar real estat mengurangi nilai yang mendasari S & L aset kredit. Sebagai hasilnya, nilai bersih dari S banyak & LS jatuh, dan regulator memutuskan untuk mengubah beberapa praktek akuntansi untuk membuatnya tampak bahwa S & Ls masih di atas persyaratan modal minimum mandat untuk melindungi dana nasabah. Coba lihat daftar tujuh praktik akuntansi atau permasalahan yang dikutip:
• Write-off penghapusan kredit yang dijual selama masa pinjaman daripada ketika kerugian tersebut terjadi,
• Penggunaan pemerintah menerbitkan Sertifikat Net Worth akan dihitung sebagai modal S & L,
• Penggunaan transaksi yang melibatkan uang di muka dan arus kas jangka pendek, yang akan meningkatkan laba saat ini dengan mengorbankan nanti.
• Kurangnya ketentuan kerugian karena pemantauan pinjaman kredit miskin,
• Penghapusan goodwill dibuat pada penggabungan suara S & L dengan S bangkrut & L selama empat puluh tahun,
• Write-up dari harta yang dimiliki berdasarkan nilai-nilai penilaian, dan
Kurangnya,
• pelaporan ditandai berbasis untuk mencerminkan realitas ekonomi.
Masalahnya, bagi saya, adalah bahwa banyak dari praktek-praktek yang tidak sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum [GAAP], namun para akuntan pergi bersama-setidaknya mereka tidak objek atau meningkatkan praktik mereka cukup untuk mengubah hasilnya. Mengapa tidak? Di mana para akuntan? "
2. "Saya juga prihatin tentang keahlian profesi akuntansi mengklaim telah dalam hal pengukuran dan pengungkapan. Sebagai contoh, baru-baru ini ada banyak artikel mengenai biaya kesehatan diciptakan oleh merokok, namun tidak ada akuntan yang terlibat. Misalnya, Mei 1994 Laporan dari Pusat Kecanduan dan Penyalahgunaan Zat di Columbia University memperkirakan bahwa "pada tahun 1994 dolar, zat Penyalahgunaan akan biaya Medicare $ 20 miliar biaya rawat inap rumah sakit sendirian" dan bahwa tembakau menyumbang 80 persen dari mereka yang rawat inap. Selama dua puluh tahun ke depan, penyalahgunaan zat akan biaya program Medicare $ 1 triliun. Tak heran wali dari Trust Medicare Dana merilis sebuah laporan pada tanggal 21 April "memprediksi bahwa Dana akan kehabisan uang di tujuh tahun." Ini adalah isu-isu penting. Mengapa kita harus menunggu untuk ekonom dan kelompok kepentingan khusus untuk membuat perhitungan? tidak Haruskah akuntan dapat membuat mereka dan memberikan kredibilitas dan keseimbangan dalam proses? Bukankah manfaat bagi masyarakat? Di mana para akuntan?
3. "Bagaimana dengan temuan penipuan? Apakah auditor melakukan cukup untuk mencegah dan menangkap perilaku penipuan? Aku tahu apa yang dosen kita berkata: auditor tidak dapat diharapkan untuk menangkap segala sesuatu; tugas mereka bukan untuk mencari penipuan kecuali kecurigaan yang terangsang selama kegiatan lainnya, dan tugas utama mereka adalah untuk mengaudit laporan keuangan. Tapi bukan auditor hanya bereaksi terhadap masalah ditemukan, ketika mereka bisa proaktif? Tidak dapat mereka menekankan pentingnya menggunakan kode etik dan dorongan karyawan untuk membawa maju keprihatinan mereka atas tindakan tidak etis? Mengapa manajemen proaktif sesuai dalam beberapa daerah lain, seperti menyetrika masalah-masalah personel, tetapi perilaku reaktif sesuai ketika berhadapan dengan penipuan? perilaku reaktif hanya akan menutup pintu gudang setelah kuda itu telah dicuri. Dalam kasus Bank of Credit & Commerce International (BCCI), misalnya, setidaknya $ 1700000000 hilang. "
"Saya kira saya berubah pikiran tentang menjadi seorang akuntan profesional. Dapatkah Anda membantu saya keluar, Sam? "
Pertanyaan
1. Apa yang akan Anda katakan Norm?
Penjelasan :
Dilihat dari ilustrasi di atas diketahui bahwa Norm masih merasa bimbang untuk menjadi seorang Akuntan setelah lulus dari universitas. Ini disebabkan karena dia merasa masih belum menguasai ilmu atau kemampuan sebagai seorang akuntan. Hal lain yang membuat Norm masih ragu atau bimbang menjadi seorang akuntan yaitu banyaknya kasus yang melibatkan seorang akuntan yang dia baca dalam artikel dan jurnal dalam akuntansi. Permasalahan akuntansi itu adalah :
1. Kasus kantor S & L saat krisis
• Write – off penghapusan kredit yang dijual selama masa pinjaman dari pada saat kerugian itu terjadi.
• Bantuan dari pemerintah yaitu dengan menerbitkan Sertifikat Net Worth dihitung sebagai modal bagi S & L.
• Penggunaan transaksi yang melibatkan uang dimuka dan arus kas jangka pendek, yang akan meningkatkan laba pada saat ini dan mengorbankan laba pada saat yang akan datang.
• Kurangnya ketentuan kerugian karena pemantauan terhadap pinjaman kredit sangat kecil.
• Terjadi penghapusan goodwill pada saat penggabungan S & L , yang sudah berlangsung selama 40 tahun.
• Write dari harta yang dimiliki berdasrkan dari nilai – nilai penilaian.
Yang menjadi permasalahan bagi Norm terhadap kasus diatas adalah Banyak dari praktek – praktek yang tidak sesuai dengan Akuntansi yang berlaku umum ( GAAP ) , karena pra akuntan juga terlibat dalam praktek tersebut dan mereka juga tidak objektif atau mereka tidak dapat mengubah hasilnya. Dimana para Akuntan???.
2. Norm juga prihatin tentang keahlian profesi Akuntan dalam hal pengukuran dan pengungkapan. Sebagai contoh , batu – baru ini banyak artikel tentang biaya kesehatan yang dilibatkan oleh merokok, namun di sini tidak ada Akuntan yang terlibat.
3. Bagaimana dengan temuan penipuan???Apakah auditor cukup untuk mencegah perilaku penipuan?? Kenapa Auditor hanya bereaksi terhadap masalah yang ditemukan ketika mereka bisa proaktif. Tidak dapatkah mereka menekankan pentingnya menngunakan kode etik. Mengapa manajemen proaktif kalau menagkut masah – masalah personel, sedangkan reaktif ketika berhadapan dengan masalah penipuan.
Itulah yang menyebabkan Norm masih ragu dan bimbang untuk menjadi seorang Akuntan setelah lulus dari universitas.
Jawaban pertanyaan :
.
Yang harus dilakukan oleh Norm adalah Bahwa tidak semua Akuntan itu melakukan praktek – praktek yang dikemukakannya , masih ada yang mengikuti kode etik atau etika profesi akuntansi. Ini bisa dilhat dari pengertian Etika itu sendiri. Dilihat dari latar belakang munculnya Etika Profesi Akuntansi yaitu karena berkembangnya profesi akuntan yang disebabkan oleh berkembangnya perusahaan dan berbagai bentuk badan hukum perusahaan. Dan dilihat dari pengertiaan etika menurut kamus besar Bahasa Indonesia (1995), bahwa Etika adalah Nilai mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat. Sedangkan menurut Maryani & Ludigdo (2001), Etika adalah Seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia , baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang dianut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau profesiSebagian akuntan melanggar kode etik , karena disebabkan oleh beberapa faktor.
Faktor – faktor yang mempengaruhi Pelanggarn Etika :
• Kebutuhan Individu
• Tidak ada pedoman
• Perilaku dan kebiaasaan individu yang terakumulasi dan tidak dikoreksi
• Lingkungan yang tidak etis
• Perilaku dari komunitas
Norm juga tidak perlu ragu dengan profesi akuntan , akan kemampuan mereka dalam hal pengukuran dan pengungkapan, karena bagi akuntan yang melanggar Kode Etik Profesi Akuntansi akan di berikan sanksi, yaitu :
• Sanksi Sosial
• Sanksi Hukum.
ETIKA PROFESI AKUNTANSI
NAMA KELOMPOK :
1. ELSHA INDAH CECILIA ( 20207399 )
2. WAHYU PUTRA ( 21207149 )
3. ZUWINDA HANDARI RAHMIYATI ( 21207290 )
4. NANDA ISMANA PUTRA ( 21207345 )
5. NUGRATAMA IMANSYAH ( 20207806 )
6. ANGGREINI WULANDARI ( 20207129 )
7. FITRI MEIDA SARI ( 20207474 )
UNIVERSITAS GUNADARMA
Mana Akuntan?
"Sam, aku benar-benar dalam kesulitan. Aku selalu ingin menjadi seorang akuntan. Tapi di sini saya hanya akan berlaku untuk perusahaan akuntansi pekerjaan setelah lulus dari universitas, dan aku tidak yakin aku ingin menjadi seorang akuntan setelah semua. "
"Kenapa, Norm? Dalam semua program akuntansi kami mengambil bersama, Anda bekerja keras super karena Anda benar-benar tertarik. Apa masalah anda sekarang? "
"Yah, aku sudah membaca surat kabar bisnis, laporan, dan jurnal akuntansi akhir-akhir ini, dan hal-hal hanya tidak menambahkan. Misalnya, Anda tahu bagaimana kita selalu diberitahu bahwa akuntan memiliki keahlian dalam measuremet dan pengungkapan, bahwa mereka seharusnya menyiapkan laporan dengan integritas, dan bahwa mereka harus membasmi penipuan jika mereka mencurigai hal itu? Yah, tidak terlihat seperti mereka telah melakukan pekerjaan yang baik. Setidaknya, mereka belum melakukan apa yang saya harapkan. "
"Ingat, Norm, kita masih mahasiswa dengan banyak belajar. Mungkin anda melewatkan sesuatu. Apa yang telah kamu telah membaca tentang? "
"Oke, Sam, berikut adalah beberapa cerita bagi Anda untuk berpikir tentang:
1. Dalam artikel ini, "Akuntan dan S & L Krisis," yang Akuntansi Manajemen pada bulan Februari 1993, saya menemukan dalil bahwa kegagalan $ 200 juta karena regulator dan penurunan di pasar real estat, bukan untuk penipuan akuntansi . . . tapi saya tidak membelinya sepenuhnya. Menurut artikel ini, suku bunga naik dan suku bunga kredit tetap mengakibatkan arus kas negatif pada saat yang sama sebagai penurunan nilai pasar real estat mengurangi nilai yang mendasari S & L aset kredit. Sebagai hasilnya, nilai bersih dari S banyak & LS jatuh, dan regulator memutuskan untuk mengubah beberapa praktek akuntansi untuk membuatnya tampak bahwa S & Ls masih di atas persyaratan modal minimum mandat untuk melindungi dana nasabah. Coba lihat daftar tujuh praktik akuntansi atau permasalahan yang dikutip:
• Write-off penghapusan kredit yang dijual selama masa pinjaman daripada ketika kerugian tersebut terjadi,
• Penggunaan pemerintah menerbitkan Sertifikat Net Worth akan dihitung sebagai modal S & L,
• Penggunaan transaksi yang melibatkan uang di muka dan arus kas jangka pendek, yang akan meningkatkan laba saat ini dengan mengorbankan nanti.
• Kurangnya ketentuan kerugian karena pemantauan pinjaman kredit miskin,
• Penghapusan goodwill dibuat pada penggabungan suara S & L dengan S bangkrut & L selama empat puluh tahun,
• Write-up dari harta yang dimiliki berdasarkan nilai-nilai penilaian, dan
Kurangnya,
• pelaporan ditandai berbasis untuk mencerminkan realitas ekonomi.
Masalahnya, bagi saya, adalah bahwa banyak dari praktek-praktek yang tidak sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum [GAAP], namun para akuntan pergi bersama-setidaknya mereka tidak objek atau meningkatkan praktik mereka cukup untuk mengubah hasilnya. Mengapa tidak? Di mana para akuntan? "
2. "Saya juga prihatin tentang keahlian profesi akuntansi mengklaim telah dalam hal pengukuran dan pengungkapan. Sebagai contoh, baru-baru ini ada banyak artikel mengenai biaya kesehatan diciptakan oleh merokok, namun tidak ada akuntan yang terlibat. Misalnya, Mei 1994 Laporan dari Pusat Kecanduan dan Penyalahgunaan Zat di Columbia University memperkirakan bahwa "pada tahun 1994 dolar, zat Penyalahgunaan akan biaya Medicare $ 20 miliar biaya rawat inap rumah sakit sendirian" dan bahwa tembakau menyumbang 80 persen dari mereka yang rawat inap. Selama dua puluh tahun ke depan, penyalahgunaan zat akan biaya program Medicare $ 1 triliun. Tak heran wali dari Trust Medicare Dana merilis sebuah laporan pada tanggal 21 April "memprediksi bahwa Dana akan kehabisan uang di tujuh tahun." Ini adalah isu-isu penting. Mengapa kita harus menunggu untuk ekonom dan kelompok kepentingan khusus untuk membuat perhitungan? tidak Haruskah akuntan dapat membuat mereka dan memberikan kredibilitas dan keseimbangan dalam proses? Bukankah manfaat bagi masyarakat? Di mana para akuntan?
3. "Bagaimana dengan temuan penipuan? Apakah auditor melakukan cukup untuk mencegah dan menangkap perilaku penipuan? Aku tahu apa yang dosen kita berkata: auditor tidak dapat diharapkan untuk menangkap segala sesuatu; tugas mereka bukan untuk mencari penipuan kecuali kecurigaan yang terangsang selama kegiatan lainnya, dan tugas utama mereka adalah untuk mengaudit laporan keuangan. Tapi bukan auditor hanya bereaksi terhadap masalah ditemukan, ketika mereka bisa proaktif? Tidak dapat mereka menekankan pentingnya menggunakan kode etik dan dorongan karyawan untuk membawa maju keprihatinan mereka atas tindakan tidak etis? Mengapa manajemen proaktif sesuai dalam beberapa daerah lain, seperti menyetrika masalah-masalah personel, tetapi perilaku reaktif sesuai ketika berhadapan dengan penipuan? perilaku reaktif hanya akan menutup pintu gudang setelah kuda itu telah dicuri. Dalam kasus Bank of Credit & Commerce International (BCCI), misalnya, setidaknya $ 1700000000 hilang. "
"Saya kira saya berubah pikiran tentang menjadi seorang akuntan profesional. Dapatkah Anda membantu saya keluar, Sam? "
Pertanyaan
1. Apa yang akan Anda katakan Norm?
Penjelasan :
Dilihat dari ilustrasi di atas diketahui bahwa Norm masih merasa bimbang untuk menjadi seorang Akuntan setelah lulus dari universitas. Ini disebabkan karena dia merasa masih belum menguasai ilmu atau kemampuan sebagai seorang akuntan. Hal lain yang membuat Norm masih ragu atau bimbang menjadi seorang akuntan yaitu banyaknya kasus yang melibatkan seorang akuntan yang dia baca dalam artikel dan jurnal dalam akuntansi. Permasalahan akuntansi itu adalah :
1. Kasus kantor S & L saat krisis
• Write – off penghapusan kredit yang dijual selama masa pinjaman dari pada saat kerugian itu terjadi.
• Bantuan dari pemerintah yaitu dengan menerbitkan Sertifikat Net Worth dihitung sebagai modal bagi S & L.
• Penggunaan transaksi yang melibatkan uang dimuka dan arus kas jangka pendek, yang akan meningkatkan laba pada saat ini dan mengorbankan laba pada saat yang akan datang.
• Kurangnya ketentuan kerugian karena pemantauan terhadap pinjaman kredit sangat kecil.
• Terjadi penghapusan goodwill pada saat penggabungan S & L , yang sudah berlangsung selama 40 tahun.
• Write dari harta yang dimiliki berdasrkan dari nilai – nilai penilaian.
Yang menjadi permasalahan bagi Norm terhadap kasus diatas adalah Banyak dari praktek – praktek yang tidak sesuai dengan Akuntansi yang berlaku umum ( GAAP ) , karena pra akuntan juga terlibat dalam praktek tersebut dan mereka juga tidak objektif atau mereka tidak dapat mengubah hasilnya. Dimana para Akuntan???.
2. Norm juga prihatin tentang keahlian profesi Akuntan dalam hal pengukuran dan pengungkapan. Sebagai contoh , batu – baru ini banyak artikel tentang biaya kesehatan yang dilibatkan oleh merokok, namun di sini tidak ada Akuntan yang terlibat.
3. Bagaimana dengan temuan penipuan???Apakah auditor cukup untuk mencegah perilaku penipuan?? Kenapa Auditor hanya bereaksi terhadap masalah yang ditemukan ketika mereka bisa proaktif. Tidak dapatkah mereka menekankan pentingnya menngunakan kode etik. Mengapa manajemen proaktif kalau menagkut masah – masalah personel, sedangkan reaktif ketika berhadapan dengan masalah penipuan.
Itulah yang menyebabkan Norm masih ragu dan bimbang untuk menjadi seorang Akuntan setelah lulus dari universitas.
Jawaban pertanyaan :
.
Yang harus dilakukan oleh Norm adalah Bahwa tidak semua Akuntan itu melakukan praktek – praktek yang dikemukakannya , masih ada yang mengikuti kode etik atau etika profesi akuntansi. Ini bisa dilhat dari pengertian Etika itu sendiri. Dilihat dari latar belakang munculnya Etika Profesi Akuntansi yaitu karena berkembangnya profesi akuntan yang disebabkan oleh berkembangnya perusahaan dan berbagai bentuk badan hukum perusahaan. Dan dilihat dari pengertiaan etika menurut kamus besar Bahasa Indonesia (1995), bahwa Etika adalah Nilai mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat. Sedangkan menurut Maryani & Ludigdo (2001), Etika adalah Seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia , baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang dianut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau profesiSebagian akuntan melanggar kode etik , karena disebabkan oleh beberapa faktor.
Faktor – faktor yang mempengaruhi Pelanggarn Etika :
• Kebutuhan Individu
• Tidak ada pedoman
• Perilaku dan kebiaasaan individu yang terakumulasi dan tidak dikoreksi
• Lingkungan yang tidak etis
• Perilaku dari komunitas
Norm juga tidak perlu ragu dengan profesi akuntan , akan kemampuan mereka dalam hal pengukuran dan pengungkapan, karena bagi akuntan yang melanggar Kode Etik Profesi Akuntansi akan di berikan sanksi, yaitu :
• Sanksi Sosial
• Sanksi Hukum.
bahan pokok
Impor Gula, Pemerintah Harus Siap Rogoh Kocek Dalam-dalam
JAKARTA - Terkait dengan kekhawatiran akan terus naiknya harga gula, Menteri Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan mengantisipasinya dengan melakukan impor. Tapi, tampaknya pemerintah harus merogoh koceknya dalam-dalam, pasalnya harga gula tengah mengalami kenaikan sekarang ini.
"Sudah kita bahas bahwa kita kekurangan sekira 400 ribu ton dan Menteri Perdagangan melakukan antisipasi dengan mengimpor, namun harus dipahami harga pangan dunia merangkak naik termasuk gula," jelasnya ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (26/11/2010).
Selanjutnya, dia mengatakan akan meningkatkan industri gula dengan mengembangkan basis gula di Merauke dan beberapa daerah lain.
"Untuk Jawa, lahannya sudah terbatas, mulai sedikit. Yang mungkin itu meningkatkan rendemen kalau istilahnya gula dan fasilitasi pabriknya. Sedangkan di luar jawa, kita mengembangkan industri baru," jelasnya.
Permasalahannya sendiri terdapat pada transaksi. "Ternyata dilakukan transaksi ulang perkiraan produksi tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Faktor cuaca dan iklim yang tidak menentu disinyalir sebagai salah satu penyebab. Kita kembali lagi ke cuaca dan iklim. Di dunia semua terganggu, kalau soal impornya tanya Mendag saja" jelasnya.(wdi)
JAKARTA - Terkait dengan kekhawatiran akan terus naiknya harga gula, Menteri Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan mengantisipasinya dengan melakukan impor. Tapi, tampaknya pemerintah harus merogoh koceknya dalam-dalam, pasalnya harga gula tengah mengalami kenaikan sekarang ini.
"Sudah kita bahas bahwa kita kekurangan sekira 400 ribu ton dan Menteri Perdagangan melakukan antisipasi dengan mengimpor, namun harus dipahami harga pangan dunia merangkak naik termasuk gula," jelasnya ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (26/11/2010).
Selanjutnya, dia mengatakan akan meningkatkan industri gula dengan mengembangkan basis gula di Merauke dan beberapa daerah lain.
"Untuk Jawa, lahannya sudah terbatas, mulai sedikit. Yang mungkin itu meningkatkan rendemen kalau istilahnya gula dan fasilitasi pabriknya. Sedangkan di luar jawa, kita mengembangkan industri baru," jelasnya.
Permasalahannya sendiri terdapat pada transaksi. "Ternyata dilakukan transaksi ulang perkiraan produksi tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Faktor cuaca dan iklim yang tidak menentu disinyalir sebagai salah satu penyebab. Kita kembali lagi ke cuaca dan iklim. Di dunia semua terganggu, kalau soal impornya tanya Mendag saja" jelasnya.(wdi)
Rabu, 24 November 2010
KEMAKMURAN INDONESIA
Mineral dan Energi untuk Kemakmuran
Indonesia dikaruniai sumber daya alam dan energi yang melimpah. Potensi sumber daya dan cadangan mineral metalik tersebar di 437 lokasi di Indonesia bagian Barat dan Timur, seperti tembaga & emas di Papua, emas di Nusa Tenggara, nikel di Sulawesi dan kepulauan Indonesia timur, bauksit di Kalimantan, dan mineral lainnya yang tersebar.
Indonesia mengekspor bijih mentah (raw ore) seperti bauksit sekitar 1,5 juta ton dan nikel ore sebesar 4,3 juta ton di tahun 2006 (ESDM, 2007).
Dengan dikeluarkannya UU Pertambangan Mineral dan Batu Bara No 4/2009,maka setelah tahun 2014 pemegang izin usaha pertambangan dilarang mengekspor barang tambang dalam bentuk mentah. Pemegang izin diwajibkan melakukan pengolahan dan pemurnian hasil penambangannya di dalam negeri.
Diperkirakan, beberapa tahun setelah tahun 2014 akan terjadi keguncangan di sektor industri logam dasar di beberapa negara, seperti industri peleburan tembaga, aluminium, dan nikel. Hal ini disebabkan berhentinya pasokan barang tambang dari Indonesia.
Defisit Energi
Untuk mengolah barang tambang, dibutuhkan energi dalam jumlah besar. Padahal, sumber energi primer diekspor dalam jumlah besar, seperti batu bara diekspor sekirs 72 persen dari total produksi, ke pasar tradisional Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dan Eropa. Gas alam pipa diekspor sekira 5,5 persen dari total produksi gas alam melalui Trans ASEAN Gas Pipeline dengan tujuan Singapura dan Malaysia (ESDM, 2007).
Gas alam cair (LNG) diekspor ke pasar tradisional seperti Jepang, Taiwan, Korea, dan pembeli baru seperti China dan Amerika Serikat. Dalam rencana umum penyediaan tenaga listrik (RUPTL) PLN tahun 2009 asumsi pertumbuhan ekonomi rata-rata 10 tahun ke depan sebesar 6,2 persen per tahun. Pada 2018 kebutuhan tenaga listrik nasional diproyeksikan akan menjadi 325,2 terawatt hour/Twh (RUPTL PLN 2009–2018).
Dengan pertumbuhan tenaga listrik nasional dan berlakunya UU Minerba, maka konsumsi energi setelah 2014 akan mengalami peningkatan konsumsi listrik sangat besar.
Padahal, sekalipun Indonesia merupakan negara pengekspor energi, PLN sendiri untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar pembangkitnya baik untuk program 10.000 MW maupun diversifikasi energinya dari bahan bakar minyak tidak semudah membalikkan tangan.
Kalau dilihat dari posisi cadangannya, Indonesia tidak kaya dan tidak miskin. Posisi cadangan terbukti Indonesia terhadap negara-negara dunia adalah: gas alam nomor 11 dunia, batu bara nomor 16 dunia, minyak nomor 29 dunia (BP statistical review 2009).
Indonesia menjadi anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) sejak 1962 sampai dengan 2008, kini sudah tidak lagi menjadi anggota OPEC (EIA Annual Energy Review 2009).
Kalau dilihat dari posisinya terhadap negara lain,Indonesia mempunyai keunggulan komparatif dengan negara pengimpor energi dan mineral, seperti Jepang, Korea Selatan, China, dan sebagian negara Eropa.
Negara-negara tersebut mengimpor barang tambang dan energi ke negara yang jaraknya ribuan kilometer dari negara mereka menggunakan kapal. Sedangkan Indonesia mempunyai semuanya di dalam negerinya, baik mineral maupun energinya, tanpa harus mengeluarkan biaya pengapalan yang besar karena pengapalan barang mentah mempunyai volume yang jauh lebih besar.
Multiplier Effect
Kita tahu bahwa pembangunan pembangkit listrik dan pembangunan industri pemrosesan mineral akan menyerap investasi dalam jumlah yang sangat besar dan akan membuat efek berantai terhadap peningkatan kegiatan ekonomi. Untuk mengatasi pengangguran, ini adalah salah satu solusinya.
Sebagai contoh, di Amerika Serikat kontribusi pembangunan pembangkit listrik panas bumi (geotermal) dengan kapasitas 230 MW memberikan lapangan kerja 3.680 orang dalam satu tahun dan memberikan output ekonomi sebesar USD3,4 miliar dari gross power sales selama operasi 30 tahun (Kagel, Geothermal Energy Association, 2006).
Pemanfaatan energi dan mineral di dalam negeri, selain akan meningkatkan kegiatan ekonomi, adalah mendapatkan benefit tak langsung (intangible), yaitu meningkatnya masyarakat yang memiliki keahlian, pengalaman, dan transisi alih teknologi.
Sebagai bukti adalah pada beberapa tahun ini ribuan tenaga kerja Indonesia yang memiliki keahlian bekerja di Timur Tengah di industri petrokimia, migas,dan sektor konstruksi yang sebelumnya hanya dikenal sebagai pengekspor TKW.
Mereka sebelumnya mempunyai pengalaman di negeri sendiri sebagai akibat kegiatan pembangunan di sektor tersebut sebelumnya. Mengolah sumber daya alam dan pemanfaatan energi di dalam negeri akan memberikan multiplier effect yang lebih besar dibandingkan mengekspornya dalam bentuk mentah.
Kegiatan ini akan memberikan dampak luas terhadap masyarakat. Kalau dahulu pemanfaatan energi dalam jumlah besar di luar Pulau Jawa sulit terealisasi karena kebutuhannya kecil, maka setelah 2014 dengan berlakunya UU Minerba Nomor 4/2009 dibutuhkan energi listrik dalam jumlah besar.
Energi dibutuhkan untuk rencana pembangkit listrik PLN dan pembangkit listrik pabrik pengolahan mineral. Program ini apabila dipadukan akan memberikan fleksibilitas transmisi listrik antardaerah sehingga memungkinkan terjadinya interkoneksi.
Lokasi pembangunan pembangkit listrik akan lebih fleksibel apabila terjadi interkoneksi transmisi listrik. Pembangunan pembangkit bisa mendekati sumber energi agar lebih ekonomis.
Daerah yang dilewati transmisi listrik akan menikmati listriknya dan seiring berjalannya waktu akan meningkatkan kegiatan ekonomi di daerah yang dilewatinya.
Ketersediaan tenaga listrik akan memicu tumbuhnya industri turunan dan pendukung dari industri pengolahan mineral. Misalnya nikel, akan memicu industri baja tahan karat (stainless steel) dan industri pendukungnya seperti industri gas, industri pengolahan air, industri listrik dan industri konstruksi lainnya.
Efek berantai akan membuat konsumsi dalam negeri meningkat sehingga rencana investasi lainnya akan lebih feasible. Efek berantai ini akan meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi dan gross national product (GDP) yang merupakan indikator ekonomi suatu negara.
Kita kenal simbol PLN adalah “listrik untuk kehidupan lebih baik” dan kita kenal juga dengan amanat UUD 45 yaitu “Bumi,air dan kekayaan alam yang dikandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Bangsa yang makmur akan dihormati dan di segani bangsa lain.(*)
Indonesia dikaruniai sumber daya alam dan energi yang melimpah. Potensi sumber daya dan cadangan mineral metalik tersebar di 437 lokasi di Indonesia bagian Barat dan Timur, seperti tembaga & emas di Papua, emas di Nusa Tenggara, nikel di Sulawesi dan kepulauan Indonesia timur, bauksit di Kalimantan, dan mineral lainnya yang tersebar.
Indonesia mengekspor bijih mentah (raw ore) seperti bauksit sekitar 1,5 juta ton dan nikel ore sebesar 4,3 juta ton di tahun 2006 (ESDM, 2007).
Dengan dikeluarkannya UU Pertambangan Mineral dan Batu Bara No 4/2009,maka setelah tahun 2014 pemegang izin usaha pertambangan dilarang mengekspor barang tambang dalam bentuk mentah. Pemegang izin diwajibkan melakukan pengolahan dan pemurnian hasil penambangannya di dalam negeri.
Diperkirakan, beberapa tahun setelah tahun 2014 akan terjadi keguncangan di sektor industri logam dasar di beberapa negara, seperti industri peleburan tembaga, aluminium, dan nikel. Hal ini disebabkan berhentinya pasokan barang tambang dari Indonesia.
Defisit Energi
Untuk mengolah barang tambang, dibutuhkan energi dalam jumlah besar. Padahal, sumber energi primer diekspor dalam jumlah besar, seperti batu bara diekspor sekirs 72 persen dari total produksi, ke pasar tradisional Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dan Eropa. Gas alam pipa diekspor sekira 5,5 persen dari total produksi gas alam melalui Trans ASEAN Gas Pipeline dengan tujuan Singapura dan Malaysia (ESDM, 2007).
Gas alam cair (LNG) diekspor ke pasar tradisional seperti Jepang, Taiwan, Korea, dan pembeli baru seperti China dan Amerika Serikat. Dalam rencana umum penyediaan tenaga listrik (RUPTL) PLN tahun 2009 asumsi pertumbuhan ekonomi rata-rata 10 tahun ke depan sebesar 6,2 persen per tahun. Pada 2018 kebutuhan tenaga listrik nasional diproyeksikan akan menjadi 325,2 terawatt hour/Twh (RUPTL PLN 2009–2018).
Dengan pertumbuhan tenaga listrik nasional dan berlakunya UU Minerba, maka konsumsi energi setelah 2014 akan mengalami peningkatan konsumsi listrik sangat besar.
Padahal, sekalipun Indonesia merupakan negara pengekspor energi, PLN sendiri untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar pembangkitnya baik untuk program 10.000 MW maupun diversifikasi energinya dari bahan bakar minyak tidak semudah membalikkan tangan.
Kalau dilihat dari posisi cadangannya, Indonesia tidak kaya dan tidak miskin. Posisi cadangan terbukti Indonesia terhadap negara-negara dunia adalah: gas alam nomor 11 dunia, batu bara nomor 16 dunia, minyak nomor 29 dunia (BP statistical review 2009).
Indonesia menjadi anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) sejak 1962 sampai dengan 2008, kini sudah tidak lagi menjadi anggota OPEC (EIA Annual Energy Review 2009).
Kalau dilihat dari posisinya terhadap negara lain,Indonesia mempunyai keunggulan komparatif dengan negara pengimpor energi dan mineral, seperti Jepang, Korea Selatan, China, dan sebagian negara Eropa.
Negara-negara tersebut mengimpor barang tambang dan energi ke negara yang jaraknya ribuan kilometer dari negara mereka menggunakan kapal. Sedangkan Indonesia mempunyai semuanya di dalam negerinya, baik mineral maupun energinya, tanpa harus mengeluarkan biaya pengapalan yang besar karena pengapalan barang mentah mempunyai volume yang jauh lebih besar.
Multiplier Effect
Kita tahu bahwa pembangunan pembangkit listrik dan pembangunan industri pemrosesan mineral akan menyerap investasi dalam jumlah yang sangat besar dan akan membuat efek berantai terhadap peningkatan kegiatan ekonomi. Untuk mengatasi pengangguran, ini adalah salah satu solusinya.
Sebagai contoh, di Amerika Serikat kontribusi pembangunan pembangkit listrik panas bumi (geotermal) dengan kapasitas 230 MW memberikan lapangan kerja 3.680 orang dalam satu tahun dan memberikan output ekonomi sebesar USD3,4 miliar dari gross power sales selama operasi 30 tahun (Kagel, Geothermal Energy Association, 2006).
Pemanfaatan energi dan mineral di dalam negeri, selain akan meningkatkan kegiatan ekonomi, adalah mendapatkan benefit tak langsung (intangible), yaitu meningkatnya masyarakat yang memiliki keahlian, pengalaman, dan transisi alih teknologi.
Sebagai bukti adalah pada beberapa tahun ini ribuan tenaga kerja Indonesia yang memiliki keahlian bekerja di Timur Tengah di industri petrokimia, migas,dan sektor konstruksi yang sebelumnya hanya dikenal sebagai pengekspor TKW.
Mereka sebelumnya mempunyai pengalaman di negeri sendiri sebagai akibat kegiatan pembangunan di sektor tersebut sebelumnya. Mengolah sumber daya alam dan pemanfaatan energi di dalam negeri akan memberikan multiplier effect yang lebih besar dibandingkan mengekspornya dalam bentuk mentah.
Kegiatan ini akan memberikan dampak luas terhadap masyarakat. Kalau dahulu pemanfaatan energi dalam jumlah besar di luar Pulau Jawa sulit terealisasi karena kebutuhannya kecil, maka setelah 2014 dengan berlakunya UU Minerba Nomor 4/2009 dibutuhkan energi listrik dalam jumlah besar.
Energi dibutuhkan untuk rencana pembangkit listrik PLN dan pembangkit listrik pabrik pengolahan mineral. Program ini apabila dipadukan akan memberikan fleksibilitas transmisi listrik antardaerah sehingga memungkinkan terjadinya interkoneksi.
Lokasi pembangunan pembangkit listrik akan lebih fleksibel apabila terjadi interkoneksi transmisi listrik. Pembangunan pembangkit bisa mendekati sumber energi agar lebih ekonomis.
Daerah yang dilewati transmisi listrik akan menikmati listriknya dan seiring berjalannya waktu akan meningkatkan kegiatan ekonomi di daerah yang dilewatinya.
Ketersediaan tenaga listrik akan memicu tumbuhnya industri turunan dan pendukung dari industri pengolahan mineral. Misalnya nikel, akan memicu industri baja tahan karat (stainless steel) dan industri pendukungnya seperti industri gas, industri pengolahan air, industri listrik dan industri konstruksi lainnya.
Efek berantai akan membuat konsumsi dalam negeri meningkat sehingga rencana investasi lainnya akan lebih feasible. Efek berantai ini akan meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi dan gross national product (GDP) yang merupakan indikator ekonomi suatu negara.
Kita kenal simbol PLN adalah “listrik untuk kehidupan lebih baik” dan kita kenal juga dengan amanat UUD 45 yaitu “Bumi,air dan kekayaan alam yang dikandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Bangsa yang makmur akan dihormati dan di segani bangsa lain.(*)
WORLD BANK
Revolusi Paradigma Pembangunan Bank Dunia
Revolusi yang nyaris tanpa gema dan tak ada reaksi keras. Dukungan pun hampir tak terdengar karena dunia lebih disibukkan dengan berbagai isu lain, seperti pencetakan dolar Amerika Serikat (AS) yang diduga akan menambah deras arus uang ke berbagai negara Asia, termasuk Indonesia.
Dunia seolah-olah acuh tak acuh dengan revolusi diamdiam yang dilakukan Bank Dunia, suatu institusi yang sangat berpengaruh pada perekonomian dunia, khususnya negara berkembang.
Begitu juga di Indonesia, apalagi akhir-akhir ini disibukkan dengan adanya bencana alam ganda, tsunami di Pulau Mentawai dan letusan Gunung Merapi di Yogyakarta. Namun, adanya bencana alam ini dan berbagai bencana alam lain yang diduga akan terus menjenguk, Indonesia seharusnya memberi dukungan pada revolusi yang dilakukan Bank Dunia.
Robert Zoellick, Presiden Bank Dunia, pada 28 Oktober lalu mengumumkan suatu revolusi paradigma pengukuran pembangunan. Bank Dunia akan menggunakan statistik baru untuk mengukur pembangunan ekonomi, khususnya perekonomian negara berkembang.
Statistik ini memasukkan kekayaan alam dan kondisi lingkungan hidup dalam pengukuran kekayaan nasional. Selama ini kekayaan nasional tidak mencakup kekayaan alam dan lingkungan hidup.
Ekspor batu bara, misalnya, jelas mengurangi kekayaan alam dan merusak lingkungan hidup. Tetapi, sampai saat ini berkurangnya kekayaan alam dan kerusakan lingkungan hidup tidak dimasukkan dalam menghitung sumbangan batu bara pada perekonomian.
Akibatnya, kita terkesima dengan laju pertumbuhan ekonomi yang diakibatkan melajunya ekspor batu bara. Kita lupa bahwa kita belum menghitung biaya penyusutan industri batu bara ini.
Kita melupakan hal yang amat dasar dalam perhitungan keuntungan dan kekayaan. Selama ini kita sering berdebat, mana yang harus diprioritaskan, pertumbuhan ekonomi atau kekayaan alam/lingkungan hidup?
Dikatakan bahwa perhatian pada kekayaan alam/lingkungan hidup akan mengurangi pertumbuhan ekonomi, padahal pertumbuhan ekonomi mutlak untuk menurunkan kemiskinan. Perdebatan ini muncul karena statistik yang dipakai tidak memasukan kekayaan alam/lingkungan hidup.
Dengan dipakainya statistik yang diusulkan Bank Dunia, perdebatan tadi berakhir karena statistik ekonomi telah memasukkan kemerosotan kekayaan alam/kerusakan lingkungan hidup. Berapa dampak ekonomi dari tsunami di Mentawai dan letusan Gunung Merapi? Secara konvensional, dampak ekonomi dirasakan makin besar bila yang terkena bencana adalah daerah yang ekonominya makin kaya.
Kalau yang terkena udara, lahar, dan debu tebal yang panas adalah Jakarta, maka biaya ekonomi akan tinggi. Perhatian dunia akan meledak dan media massa akan menyebutkan begitu besarnya kerugian ekonomi akibat bencana di Jakarta. Dengan perhitungan konvensional, dampak ekonomi tsunami di Mentawai menjadi tampak amat kecil karena tidak banyak kegiatan ekonomi di Mentawai.
Dampak meletusnya Merapi di lereng Merapi amat kecil karena kegiatan ekonomi di lereng itu masih terbatas. Terasa adilkah pengukuran konvensional ini?
Kalau saja sudah ada pengukuran dari Bank Dunia, yang menghitung kemerosotan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan hidup, biaya terjadinya tsunami di Pulau Mentawai dan letusan Gunung Merapi di lereng Merapi juga akan menjadi besar.
Seorang kawan, yang bukan ekonom, bertanya ke saya, mengapa konsep yang tampak begitu sederhana itu saya sebut sebagai revolusi? Bukankah semua orang sudah tahu? Memang ekonom dan yang pernah belajar ekonomi sesungguhnya tahu akan hal ini. Mereka pernah belajar bagaimana suatu perusahaan menghitung kekayaannya dengan tidak melupakan menghitung biaya penyusutan (depresiasi).
Mesin yang kita pakai tentu suatu ketika tidak dapat dipakai lagi dan kita harus mengganti dengan yang baru. Nah, penyusutan nilai mesin itu harus diperhitungkan dalam menghitung keuntungan perusahaan.
Perhitungan penyusutan ini mutlak untuk menjamin kelangsungan perusahaan. Bila penyusutan tidak dilakukan, perusahaan seolah mempunyai keuntungan banyak namun secara tiba-tiba dapat dikagetkan karena tidak mampu mengganti mesin yang telah rusak.
Hal yang sama juga dipelajari pada awal kuliah ekonomi makro. Mereka belajar bahwa pendapatan nasional dapat diukur secara kotor (bruto), misalnya gross domestic product (GDP), ataupun secara bersih (neto) seperti net domestic product (NDP).Yang kotor belum memperhitungkan penyusutan kekayaan dalam perekonomian.
Sayangnya dengan berjalannya kuliah, pendapatan ataupun kakayaan nasional yang diukur secara bersih tidak lagi pernah dibicarakan. Sudah terlupakan bahwa penurunan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan hidup sesungguhnya merupakan penyusutan kekayaan nasional dan harus diperhitungkan dalam mengukur pertumbuhan ekonomi.
Kalaupun ada yang menyadari pentingnya penyusutan, mereka terbentur dengan tiadanya statistik untuk mengukur penyusutan. Para pejabat pemerintah dan ekonom yang memegang peran penting dalam pemerintah juga menyadari hal ini namun mereka tidak berani untuk melakukan revolusi.
Salah-salah, mereka justru dicemooh oleh dunia internasional. Maka,inisiatif dari Bank Dunia ini menjadi langkah politis yang amat penting. Indonesia dapat memberikan dukungan yang penting pada Bank Dunia.
Kita bersama-sama mencari statistik tersebut, kemudian kita sarankan pada Bank Dunia. Dengan statistik ini, masalah lingkungan hidup dan sumber daya alam akan berada di bawah koordinasi Menko Perekonomian.
Perencanaan pembangunan kita akan segera berubah dengan makin terperhatikannya masalah sumber daya alam dan lingkungan hidup. Presiden tidak mengumumkan GDP tetapi NDP.
Sebelum mendapatkan konsensus mengenai statistik tersebut, kita dapat memulai dengan mengumumkan statistik mengenai kekayaan alam dan lingkungan hidup sekali dalam tiga bulan. Statistik itu diumumkan bersamaan dengan pengumuman statistik ekonomi makro konvensional.
Kalau memberikan dukungan kuat pada Bank Dunia, memberikan usulan statistik, dan segera memulai mengukur dan mengumumkan statistik kekayaan alam dan lingkungan hidup setiap tiga bulan.
Presiden Yudhoyono akan diingat sebagai presiden yang ikut merevolusi paradigma pembangunan. Yudhoyono akan selalu disebut dalam setiap buku teks ekonomi pembangunan sebagai presiden yang telah ikut memelopori revolusi paradigma pembangunan.
Terbayang, pada 2030 nanti saya akan berkata pada mahasiswa saya, ”Presiden Yudhoyono dan para ekonomnya memang hebat sekali. Mereka memanfaatkan momentum yang diciptakan oleh Bank Dunia, momentum memimpin ASEAN, dan menjadi anggota G-20. Dengan kepeloporan Indonesia, negara lain pun beramairamai mendukung gagasan Bank Dunia. Ini adalah revolusi besar dalam paradigma pembangunan ekonomi yang dimulai oleh Bank Dunia dan Indonesia.”(*)
Revolusi yang nyaris tanpa gema dan tak ada reaksi keras. Dukungan pun hampir tak terdengar karena dunia lebih disibukkan dengan berbagai isu lain, seperti pencetakan dolar Amerika Serikat (AS) yang diduga akan menambah deras arus uang ke berbagai negara Asia, termasuk Indonesia.
Dunia seolah-olah acuh tak acuh dengan revolusi diamdiam yang dilakukan Bank Dunia, suatu institusi yang sangat berpengaruh pada perekonomian dunia, khususnya negara berkembang.
Begitu juga di Indonesia, apalagi akhir-akhir ini disibukkan dengan adanya bencana alam ganda, tsunami di Pulau Mentawai dan letusan Gunung Merapi di Yogyakarta. Namun, adanya bencana alam ini dan berbagai bencana alam lain yang diduga akan terus menjenguk, Indonesia seharusnya memberi dukungan pada revolusi yang dilakukan Bank Dunia.
Robert Zoellick, Presiden Bank Dunia, pada 28 Oktober lalu mengumumkan suatu revolusi paradigma pengukuran pembangunan. Bank Dunia akan menggunakan statistik baru untuk mengukur pembangunan ekonomi, khususnya perekonomian negara berkembang.
Statistik ini memasukkan kekayaan alam dan kondisi lingkungan hidup dalam pengukuran kekayaan nasional. Selama ini kekayaan nasional tidak mencakup kekayaan alam dan lingkungan hidup.
Ekspor batu bara, misalnya, jelas mengurangi kekayaan alam dan merusak lingkungan hidup. Tetapi, sampai saat ini berkurangnya kekayaan alam dan kerusakan lingkungan hidup tidak dimasukkan dalam menghitung sumbangan batu bara pada perekonomian.
Akibatnya, kita terkesima dengan laju pertumbuhan ekonomi yang diakibatkan melajunya ekspor batu bara. Kita lupa bahwa kita belum menghitung biaya penyusutan industri batu bara ini.
Kita melupakan hal yang amat dasar dalam perhitungan keuntungan dan kekayaan. Selama ini kita sering berdebat, mana yang harus diprioritaskan, pertumbuhan ekonomi atau kekayaan alam/lingkungan hidup?
Dikatakan bahwa perhatian pada kekayaan alam/lingkungan hidup akan mengurangi pertumbuhan ekonomi, padahal pertumbuhan ekonomi mutlak untuk menurunkan kemiskinan. Perdebatan ini muncul karena statistik yang dipakai tidak memasukan kekayaan alam/lingkungan hidup.
Dengan dipakainya statistik yang diusulkan Bank Dunia, perdebatan tadi berakhir karena statistik ekonomi telah memasukkan kemerosotan kekayaan alam/kerusakan lingkungan hidup. Berapa dampak ekonomi dari tsunami di Mentawai dan letusan Gunung Merapi? Secara konvensional, dampak ekonomi dirasakan makin besar bila yang terkena bencana adalah daerah yang ekonominya makin kaya.
Kalau yang terkena udara, lahar, dan debu tebal yang panas adalah Jakarta, maka biaya ekonomi akan tinggi. Perhatian dunia akan meledak dan media massa akan menyebutkan begitu besarnya kerugian ekonomi akibat bencana di Jakarta. Dengan perhitungan konvensional, dampak ekonomi tsunami di Mentawai menjadi tampak amat kecil karena tidak banyak kegiatan ekonomi di Mentawai.
Dampak meletusnya Merapi di lereng Merapi amat kecil karena kegiatan ekonomi di lereng itu masih terbatas. Terasa adilkah pengukuran konvensional ini?
Kalau saja sudah ada pengukuran dari Bank Dunia, yang menghitung kemerosotan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan hidup, biaya terjadinya tsunami di Pulau Mentawai dan letusan Gunung Merapi di lereng Merapi juga akan menjadi besar.
Seorang kawan, yang bukan ekonom, bertanya ke saya, mengapa konsep yang tampak begitu sederhana itu saya sebut sebagai revolusi? Bukankah semua orang sudah tahu? Memang ekonom dan yang pernah belajar ekonomi sesungguhnya tahu akan hal ini. Mereka pernah belajar bagaimana suatu perusahaan menghitung kekayaannya dengan tidak melupakan menghitung biaya penyusutan (depresiasi).
Mesin yang kita pakai tentu suatu ketika tidak dapat dipakai lagi dan kita harus mengganti dengan yang baru. Nah, penyusutan nilai mesin itu harus diperhitungkan dalam menghitung keuntungan perusahaan.
Perhitungan penyusutan ini mutlak untuk menjamin kelangsungan perusahaan. Bila penyusutan tidak dilakukan, perusahaan seolah mempunyai keuntungan banyak namun secara tiba-tiba dapat dikagetkan karena tidak mampu mengganti mesin yang telah rusak.
Hal yang sama juga dipelajari pada awal kuliah ekonomi makro. Mereka belajar bahwa pendapatan nasional dapat diukur secara kotor (bruto), misalnya gross domestic product (GDP), ataupun secara bersih (neto) seperti net domestic product (NDP).Yang kotor belum memperhitungkan penyusutan kekayaan dalam perekonomian.
Sayangnya dengan berjalannya kuliah, pendapatan ataupun kakayaan nasional yang diukur secara bersih tidak lagi pernah dibicarakan. Sudah terlupakan bahwa penurunan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan hidup sesungguhnya merupakan penyusutan kekayaan nasional dan harus diperhitungkan dalam mengukur pertumbuhan ekonomi.
Kalaupun ada yang menyadari pentingnya penyusutan, mereka terbentur dengan tiadanya statistik untuk mengukur penyusutan. Para pejabat pemerintah dan ekonom yang memegang peran penting dalam pemerintah juga menyadari hal ini namun mereka tidak berani untuk melakukan revolusi.
Salah-salah, mereka justru dicemooh oleh dunia internasional. Maka,inisiatif dari Bank Dunia ini menjadi langkah politis yang amat penting. Indonesia dapat memberikan dukungan yang penting pada Bank Dunia.
Kita bersama-sama mencari statistik tersebut, kemudian kita sarankan pada Bank Dunia. Dengan statistik ini, masalah lingkungan hidup dan sumber daya alam akan berada di bawah koordinasi Menko Perekonomian.
Perencanaan pembangunan kita akan segera berubah dengan makin terperhatikannya masalah sumber daya alam dan lingkungan hidup. Presiden tidak mengumumkan GDP tetapi NDP.
Sebelum mendapatkan konsensus mengenai statistik tersebut, kita dapat memulai dengan mengumumkan statistik mengenai kekayaan alam dan lingkungan hidup sekali dalam tiga bulan. Statistik itu diumumkan bersamaan dengan pengumuman statistik ekonomi makro konvensional.
Kalau memberikan dukungan kuat pada Bank Dunia, memberikan usulan statistik, dan segera memulai mengukur dan mengumumkan statistik kekayaan alam dan lingkungan hidup setiap tiga bulan.
Presiden Yudhoyono akan diingat sebagai presiden yang ikut merevolusi paradigma pembangunan. Yudhoyono akan selalu disebut dalam setiap buku teks ekonomi pembangunan sebagai presiden yang telah ikut memelopori revolusi paradigma pembangunan.
Terbayang, pada 2030 nanti saya akan berkata pada mahasiswa saya, ”Presiden Yudhoyono dan para ekonomnya memang hebat sekali. Mereka memanfaatkan momentum yang diciptakan oleh Bank Dunia, momentum memimpin ASEAN, dan menjadi anggota G-20. Dengan kepeloporan Indonesia, negara lain pun beramairamai mendukung gagasan Bank Dunia. Ini adalah revolusi besar dalam paradigma pembangunan ekonomi yang dimulai oleh Bank Dunia dan Indonesia.”(*)
Langganan:
Postingan (Atom)